Pelayanan kesehatan pada sejumlah Puskesmas di Aceh masih sangat
memprihatinkan. Selain fasilitas yang belum memadai, sosialisasi soal
penyakit ke masyarakat juga masih jauh dari harapan.
Hal ini
diungkapkan Neneng, tim LPSS USAID dalam acara diskusi sejumlah wartawan
di Banda Aceh, Rabu (20//8). “Hasil penelitian kami pada sejumlah
Puskesmas di 23 kab/kota di Aceh, iya kondisi Puskesmas dan sistem
pelayanan masih jauh dari harapan,” kata Neneng.
Apalagi di wilayah
terpencil, kondisi Puskesmasnya kumuh, lantai keramik pecah-pecah dan
kotor. Kondisi itu membuat pasien tidak nyaman berobat ke puskesmas.
Belum lagi keluhan masyarakat pada pelayanan petugas, yang lamban dan
boleh disebut asal-asalan. “Kalau selama ini sistem pelayanan tidak
memuaskan pasien kerap kita dengar di RSUZA, hal serupa juga terjadi di
Puskesmas-Puskesmas,” ujar Neneng.
Selain itu, sosialisasi kesehatan pada masyarakat juga masih sangat kurang. Seperti, soal Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA), Jaminan Kesehatan Nasional (JKN ), serta -jenis penyakit yang bisa di rujuk ke rumah sakit.
“Dari
ketentuan JKN ada 144 penyakit yang tidak bisa di klaim ke JKN dan di
rujuk ke rumah saki. Karena tidak disosialisasikan, membuat masyarakat
tidak mengerti hal itu. Ini salah satu yang kami temukan di lapangan,”
tutur Neneng.
Pada diskusi warung kopi tersebut turut dihadiri
Ketua AJI Banda Aceh, Maimun Saleh dan sejumlah wartawan lainnya.
Pembahasan Tim LPSS USAID soal pelayanan kesehatan ini berdasarkan hasil
temuan di lapangan dalam beberapa bulan terakhir.(amin/01)
Sumber: harianceh



Tidak ada komentar: