Perilaku dan akhlak seseorang juga dapat
diukur dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
maka makin tinggi pula akhlak kepribadiannya.
Berbicara masalah pendidikan, berarti
tidak lepas dari bicara tentang masyarakat. Karena pendidikan yang berkualitas tidak
bisa terpisahkan dengan kepedulian masyarakat. Yang termasuk masyarakat di sini adalah
orang-orang yang berada di sekitar kita. Semua unsur yang ada dalam
masyarakat mempunyai andil yang besar dalam menentukan kualitas pendidikan yang
ada di Aceh.
Selama ini masyarakat punya pandangan
yang keliru terhadap problematika pendidikan. Di mana pendidikan dianggap semata-mata tanggungjawab guru atau bahkan pemerintah.
Padahal,
sesungguhnya pendidikan adalah tanggungjawab kita semua.
Makanya, baik guru, orang tua, lingkungan dan pemerintah mempunyai tanggung
jawab yang sama. Jadi pendidikan bukan tanggung jawab guru semata. Karena itu, butuh
kerjasama yang baik antara guru dan orang tua. Pada sisi lain, lingkungan juga sangat besar
pengaruhnya terhadap kualitas pendidikan.
Sebab, hanya lingkungan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik pula. Anggapan yang
keliru selama inilah yang membuat mutu pendidikan di Aceh sangat hancur. Karena
masalah pendidikan semata-mata diserahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah.
Sepulang dari sekolah orang tua masih banyak yang tidak mengontrol anak-anaknya
lagi di rumah terutama dalam hal pelajaran di sekolah.
Begitu juga masyarakat disekitarnya, kurang
peduli jika mendapati anak sekolah berkeliaran di jalanan. Masyarakat
membiarkan saja, karena beranggapan bahwa anak-anak tersebut bukan anaknya, maka
tidak perlu diperhatikan.
Padahal sesungguhnya anak-anak tersebut
juga anak-anak kita, anak-anak bangsa yang harus kita perhatikan
perkembangannya. Dengan kita memperhatikan generasi bangsa berarti kita telah
menyelamatkan negara. Masa depan bangsa terletak di tangan generasi muda.
Oleh karena itu kita wajib menjaga bersama generasi muda kita terutama dalam
hal pendidikan mereka. Dengan pendidikan yang baik akan melahirkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas.
Masalah pendidikan tidak bisa dipisahkan
dengan masalah akhlak. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran penting dalam
pembentukan akhlak anaknya. Untuk membentuk akhlak anak yang baik, dibutuhkan orang tua yang
berakhlak baik juga.
Akhlak yang baik sangat ditentukan oleh
pendidikan yang baik pula. Oleh karena itu orang tua wajib mempunyai bekal
pendidikan yang baik dalam mendidik anak-anaknya. Kalau orang tua tidak punya
pendidikan yang cukup, bagaimana mungkin dia dapat mendidik anak-anaknya dengan
baik.
Kearifan lokal (local wisdom) Aceh sudah sejak dari dulu
mengingatkan itu dalam dalam hadih majanya; pakiban
u meunan minyeuk, kiban ku meunan aneuk. Pesan endatu atau nenek moyang ini jika diterjemahkan secara bebas
berbunyi; bagaiman kelapa begitu minyaknya, bagaimana orang tua begitu anaknya.
Akhlak yang baik ditentukan oleh
pendidikan agama yang baik. Dan ini bisa dilihat dari tingkat keimanan
seseorang kepada Allah SWT. Pendidikan dan iman harus sejalan, sehingga
terciptanya akhlak yang baik pada diri seseorang. Jika tingkat keimanan
seseorang sudah baik, otomatis akhlak dan perbuatannya akan baik pula. Begitulah Allah SWT mengatur kehidupan hambanya.
Karena dalam melakukan kegiatannya
sehari-hari orang tersebut berpedoman pada ketentuan yang sudah di gariskan
Allah SWT dan tidak akan menyimpang karena merasa diawasi oleh Allah SWT.
Kalau tingkat kepedulian masyarakat
sudah tinggi terhadap masa depan bangsa, khususnya dalam masalah pendidikan,
berarti kualitas pendidikan dapat kita tingkatkan. Karena guru tidak lagi bekerja
sendiri dalam mendidik generasi
bangsa.
Masyarakat dan orang tua juga harus proaktif dalam
menciptakan pendidikan yang berkualitas. Artinya, jika sudah ada komunikasi yang baik antara guru,
orang tua dan masyarakat dalam membina anak-anak mereka, kita yakin perubahan itu akan segera terjadi.
Hal ini tentunya tidak terlepas dari
pemahaman bahwa orang tua dan masyarakat juga harus mengambil andil dalam
mendidik anak-anak mereka, tidak semata-mata masalah pendidikan diserahkan
kepada guru di sekolah. Namun orang tua dan masyarakat juga ikut mengontrolnya
di rumah.
Semua pihak harus benar-benar memahami
akan fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga tidak saling berharap
dan tidak saling menyalahkan jika terjadi sesuatu kepada anak-anak melainkan dipikirkan secara
bersama-sama. Dengan demikian segala persoalan dapat teratasi.
Namun demikian ada sebuah catatan
penting, bahwa yang menjadi ujung tombak dalam menentukan kualitas pendidikan
adalah guru, di samping adanya keterlibatan semua pihak. Karena guru yang
berkualitas akan menghasilkan murid yang berkualitas pula. Akan tetapi, guru selain
berkualitas harus juga kreatif dan
inovatif dalam mendidik.
Artinya, seorang guru harus bisa
memberikan rasa aman, nyaman sehingga disenangi oleh muridnya. Karena perasaan
tersebutlah, maka murid bisa dengan mudah menerima dan menyerap semua ilmu
yang disampaikan oleh gurunya. Guru juga harus bisa memberikan motivasi kepada
muridnya, sehingga timbul semangat belajarnya.
Namun, yang kita
dengar selama ini, guru tidak mengajar layaknya seorang pendidik. Ini bisa
dilihat dari sikapnya yang kurang menganyomi, menyayangi dan mengasihi anak
didiknya. Dalam kata lain, barangkali kita bisa katakan, kini para guru tidak
lagi “mencintai” pekerjaannya.
Kenapa begitu, karena
kebanyakan para guru yang selama ini mendidik tidak punya latarbelakang yang
memadai sebagai seorang guru. Kenapa ini bisa terjadi, karena tak lain akibat
banyak oknum guru yang merasa terlanjur karena tak punya peluang kerja yang
lain.
Pada sisi lain, yang perlu kita camkan bahwa pentingnya menyamakan misi dari level paling atas
sampai ketingkat paling bawah tentang betapa pentingnya pendidikan bagi suatu
bangsa. Karena maju mundurnya suatu Negara atau daerah diukur dari tinggi
rendahnya mutu pendidikan. Melalui pendidikanlah terciptanya SDM yang baik
sesuai yang kita butuhkan.
Untuk itu, perlu kita tingkatkan terus
kesamaan persepsi kita tentang pentingnya pendidikan. Serta pemahaman bahwa
pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama tanpa ada pengecualian baik dari
aparatur pemerintahan sampai ke tingkat masyarakat.
Nah, bicara peran
masyarakat, saya pikir pemerintah juga harus mengkampanyekan ini kembali guna
merangsang lagi kepedulian mereka tentang pentingnya pendidikan. Bukan hanya
pendidikan untuk lingkungan keluarga saja, namun pendidikan di level lingkungan
juga harus bagus.
Bila semua ini sudah
berjalan sesuai harapan, tentu pada suatu saat nanti, kita akan menerima imbas
baik dari proses yang terbangun dari kesadaran warga. Sebab kita harus
menyakini, masyarakat (terutama keluarga, lalu lingkungan) itu bisa menjadi
penentu mutu pendidikan yang baik. Apabila semua kita bekerjasama, saya kini
kualitas pendidikan kita bisa diperbaiki.
Makanya amat penting,
lahirnya kesadaran dari keluarga dan masyarakatnya. Semoga
dengan timbulnya kesadaran itu pada diri kita semua, maka kita dapat secara
bersama-sama membawa perubahan pendidikan di Aceh kearah yang lebih baik lagi
dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga.
[]
* Penulis adalah aktivis perempuan
dan jurnalis warga
tinggal di Lampaseh, Banda Aceh



Tidak ada komentar: