Pers Tidak Boleh Menciptakan Konflik
Posted by Blog Warga on Selasa, 10 Februari 2015
Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengatakan bahwa insan pers tidak boleh menciptakan konflik dengan terlibat dalam kegaduhan yang terjadi di tanah air. Menurut Bagir, pers harus menjadi sarana informasi yang baik bagi masyarakat."Dalam tradisi pers demokratis, pers bisa membuka peluang diskusi secara bebas tetapi tidak boleh menciptakan kontradiksi dan konflik. Pers harus mendorong untuk hal yang lebih baik," kata Bagir disela acara diskusi rangkaian perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2015, di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (7/2/2015).
Bagir mengatakan ungkapan yang selama ini dikenal di kalangan insan pers bahwa "bad news is a good news" sudah tidak relevan lagi. Menurutnya, sebuah berita yang buruk bisa dijadikan peringatan agar seseorang lebih waspada akan tetapi hal tersebut bukan hal yang prinsipal.
"Kita harus berprinsip "good news is a good news" meskipun "bad news" harus diketahui orang supaya waspada," jelas Bagir.
Sementara itu, anggota Dewan Pers Muhammad Ridlo Eisy mengatakan bahwa Indonesia tidak menganut kebebasan pers yang sebebas-bebasnya.
"Batas pers di Indonesia adalah kebebasan pers orang lain. Kalau ada media yang tidak bertanggungjawab dalam pemberitaan, akan ada konsekuensinya. Pers di sini menghormati norma agama, azas praduga tidak bersalah sehingga kalau melanggar bisa kena pidana," jelas Ridlo.
Pada peringatan Hari Pers Nasional 2015, diusung tema besar "Kemerdekaan Pers dari Rakyat untuk Rakyat" dengan subtema "Pers Sehat, Bangsa Hebat" yang artinya bahwa HPN bukanlah eksklusif milik masyarakat pers di tanah air, melainkan adalah milik seluruh bangsa Indonesia.
Bagir Manan: Media Jangan jadi Terompet Kegaduhan
Posted by Blog Warga on
"Dalam suasana kegaduhan demi kegaduhan kekuasaan, pers atau media tidak semestinya menjadi terompet apalagi menjadi bagian dari kegaduhan itu," kata Bagir Manan dalam sambutan acara Konvensi Media Massa di sela rangkaian perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2015, di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu.
Bagir mengharapkan pers dan media di Indonesia senantiasa menggiatkan agar pelaku politik dan kenegaraan berhenti dari terus-menerus bergaduh sekadar untuk memperoleh, atau berbagi kekuasaan semata.
"Saya perlu ingatkan kembali, pers atau media harus menempatkan diri sebagai the spearhead, keluar dari berbagai kegaduhan yang tidak memberi manfaat bagi kepentingan rakyat banyak," ujar dia.
Bagir sebelumnya juga pernah menyampaikan di tengah bergulirnya pemerintahan baru saat ini, pers harus mampu melindungi dirinya sendiri dengan menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional sesuai ketentuan kode etik jurnalistik dan Undang-Undang Pers.
Pengamat politik dari lembaga survei Populi Center Nico Haryanto mengatakan saat ini situasi politik nasional tengah mengalami fase abnormalitas.
Segala hal yang lumrah terjadi pada level eksekutif dan legislatif seolah berbalik 180 derajat tanpa diduga-duga.
"Ini memang terjadi abnormalitas politik di mana partai-partai pemerintah terlihat galak sekali kepada Presiden sementara partai-partai oposisi justru malah lebih ramah dan sangat supportif terhadap apapun keputusan pemerintah," kata Nico.
Hal tersebut menurut Nico, mengindikasikan adanya permasalahan yang agak serius terhadap Koalisi Indonesia Hebat atau koalisi yang mendukung pemerintahan Presiden Jokowi, dan akan sangat memengaruhi kinerja pemerintahan Jokowi-JK.
Rangkaian kegiatan peringatan Hari Pers Nasional 2015 berlangsung pada 1-10 Februari 2015 di Batam dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Puncak acara Hari Pers Nasional dijadwalkan berlangsung 9 Februari 2015 di Hotel Harmoni One, Batam, dan akan dihadiri Presiden Joko Widodo.
Sumber: Antara
Ada Media Besar Bertindak Seperti Pers Abal-abal
Posted by Blog Warga on
Dalam rangakaian puncak acara tersebut, Wapres menyaksikan rangkaian kegiatan mulai dari penandatanganan kesepakatan bersama antara Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) mengenai pengembangan pendidikan tinggi jurnalistik di Semarang. MoU mengenai pendidikan dan pelatihan wartawan serta media literaso antara Persatuan Wartawan Indonesia dengan BRI, Garuda Indonesia, Transcorp Media, Artha Graha Peduli dan Lippo Group.
Selain itu, Wapres juga menyaksikan sejumlah penghargaan yang diberikan kepada kalangan pers diantaranya Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2014.
Dalam sambutannya, Jusuf Kalla mengharapkan pers harus terus memberikan optimisme kepada masyarakat, mendorong persatuan dan mendamaikan bangsa. Pers jangan membuat masyarakat pesimis.
Ia juga mengatakan bahwa pers merupakan mata, telinga dan mulut sebuah bangsa. “Tanpa media sebuah bangsa tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak memiliki mulut,” katanya.
Sedangkan Ketua Dewan Pers Bagir Manan menegaskan bahwa kebebasan pers adalah keberpihakan pers terhadap publik bukan malah ikut menempatkan diri sebagai bagian integral kekuatan-kekuatan politik yang bersaing.
“Pers partisan merendahkan diri sendiri, mengesampingkan kode etik, dan standar jurnalistik,” kata Bagir saat acara Peringatan Hari Pers Nasional 2015 di Batam, Kepulauan Riau, Senin (9/2/2015).
Pada acara tersebut Bagir Manan menekankan kode etik pers, karena banyaknya timbul media abal-abal yang tidak jelas penanggungjawabnya dan bahkan ada media-media besar yang melanggar kode etik pers alias bertindak abal-abal. “Hal tersebut harus ditindak tegas.“
Perbuatan pers abal-abal itu seperti memeras, mengancam, intimidasi dan sebagainya.
Selain Wapres, sejumlah pejabat tinggi negara seperti Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Ketua MPR Zulkifli Hasan dan para kepala daerah dari seluruh Indonesia juga menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional 2015 di Batam. (tb/net)
Bagir Ibaratkan Pers Seperti Lebah, JK: Kalau Sarang Lebah Diserang, Dia akan Ngamuk
Posted by Blog Warga on Senin, 09 Februari 2015
"Begitu pentingnya fungsi pers, sehingga seperti Pak Bagir sampaikan seperti lebah. Tapi itu masih kurang Pak (Bagir), kalau sarang lebah diserang, dia akan ngamuk. Maka saya mesti datang karena ngamuk kalau saya tidak datang. Itu lah lebah," kata JK yang disambut tawa dan tepuk tangan audiens.
JK menyampaikan ini saat menyampaikan sambutannya pada acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang digelar di Hotel Harmoni One, Batam, Kepulauan Riau, Senin (9/2/2015). Tampak juga hadir dalam acara itu, Ketua MPR Zulkilfi Hasan, dan sejumlah menteri kabinet kerja.
Selain soal lebah, JK juga menanggapi sambutan Bagir Manan yang mengungkapkan lebih baik pers pertanyakan suatu keputusan dari pada pers pertanyakan kenapa tidak ada suatu keputusan.
"Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa tanpa media, pers yang memahami situasi. Apabila tidak ada masalah pers juga tak ada berita. Tadi Pak Bagir juga menyinggung soal keputusan, ialah praduga tak bersalah. Maka itu kita jalankan praduga tak bersalah dulu sampai keputusan pengadilan," ujar JK.
Pernyataan JK ini seperti merujuk pada kasus Komjen Budi Gunawan yang sedang menjalani sidang Praperadilan. BG menggugat penetapan tersangka yang ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Kalau kita ambil keputusan sebelum pengadilan, salah. Jadi serba salah. Tak ambil keputusan salah, ambil keputusan juga salah, Itu lah pemerintah di tengah arus informasi. Namun kita harus tegas dan tegar," sambungnya.
Sumber: detik.com
Cara Unik Peringati Hari Pers Nasional
Posted by Blog Warga on
Aksi ini dilakukan dalam memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-69 tahun.
Beragam pendapat pun diutarakan sejumlah pengendara yang mendapat coklat.
Umumnya, mereka berharap agar wartawan lebih kritis dan tidak memihak pada segelintir kelompok atau golongan. Pernyataan yang sama juga diucapkan salah satu dosen Jurnalistik dari Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta, Lian Nasution.
"Semangat kerja dari mayoritas wartawan sudah hancur. Independensi dan usaha menggali kebenaran informasi telah luntur. Pers di Indonesia mengalami disorientasi dan cenderung kebablasan," ucap Lian yang saat itu kebetulan melintas di Jalan Margonda, lampu merah Arif Rahman Hakim.
Lian menilai, sejak media berubah jadi sebuah industri, hanya sedikit wartawan yang mampu mengimplementasikan tugas dan tanggung jawab profesinya. Sebagian besar wartawan lebih mengutamakan kebutuhan materi ketimbang bekerja sesuai kode etik jurnalistik.
Menurut dia, wartawan sudah tak banyak yang memihak pada kepentingan rakyat.
"Sekarang lebih banyak yang memihak kepada segelintir kelompok dan pemilik modal, atau bahkan kepentingan narasumber. Pemihakan yang melenceng itu sulit dikembalikan jika wartawan tak memiliki sikap tegas dan sadar bahwa berita yang dia buat itu bisa memengaruhi rakyat," kata Lian.
Dalam memperingati Hari Pers Nasional ini, Lian berharap segenap insan pers bisa kembali bekerja dengan semangat positif. Sebagai agen perubahan, semangat kerja wartawan harus berlandaskan kebenaran.
"Saya masih optimistis, pers di Indonesia bisa kembali bijak. Asal, para wartawannya bisa menjaga independensi," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Wartawan (Pokja) Kota Depok, Feru Lantara, menilai, isi berita yang diproduksi para wartawan saat ini juga cenderung elitis. Padahal, wartawan seharusnya menggali informasi awal dari rakyat, bukan dari para pejabat.
"Fungsi para elite dan pejabat itu sebaiknya hanya untuk konfirmasi. Bukan sebagai isi pokok berita. Wartawan sebagai wakil masyarakat meminta pertanggungjawaban para pemangku kebijakan," ucap redaktur kantor Berita Antara ini usai membagikan coklat pada sejumlah pengemudi.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua Pokja Depok, Hendrik Raseukiy, menambahkan, wartawan harus mengutamakan kepentingan masyarakat dalam menggali, mengumpulkan, dan mengolah informasi. Wartawan harus bisa bekerja sama dengan siapa pun, tak ada jarak.
"Acara bagi-bagi kue kepada para pengguna jalan raya ini bukan sekadar simbolisasi. Jalan merupakan sarana milik rakyat. Kami ingin menyampaikan, pers adalah milik semua orang. Kami bisa berteman dengan siapa saja, tak memandang jabatan dan status sosial," tambah Hendrik.
Puluhan wartawan dari bebagai media massa nasional, regional, dan lokal membagi-bagikan kue cokelat berbentuk hati kepada warga yang melintas di Jalan Raya Margonda, Depok.
"Kenapa kuenya berbentuk hati dan berasa cokelat? Itu merupakan representasi dari roh wartawan. Wartawan harus mencintai semua orang dan siap bermitra secara profesional dengan berbagai kalangan," jelas Hendrik. (one) [VIVA]
Jenis-Jenis Tulisan Jurnalistik
Posted by Blog Warga on Minggu, 09 November 2014
- Berita (news) adalah laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data tentang peristiwa tersebut.
- Unsur fakta yang dilaporkan mencakup 5W+1H: What (Apa yang terjadi), Who (Siapa pelaku atau orang yang terlibat dalam kejadian itu), Why (Kenapa hal itu terjadi), When (Kapan kejadiannya), Where (Di mana terjadinya), dan How (Bagaimana proses kejadiannya).
- Ada beberapa jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik, antara lain berita langsung (straight news), berita mendalam (depth news), berita opini (opinion news), dan berita foto.
- Struktur tulisannya terdiri dari judul (head), baris tanggal (dateline), teras berita (lead), dan isi berita (body).
- Prinsip penulisannya antara lain mengedepankan fakta terpenting (mode piramida terbalik, inverted pyramid), tidak mencampurkan fakta dan opini, dan berimbang (balance, covering both side).
- Isi berita merupakan fakta peristiwa yang benilai berita (news value), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik.
- Opini adalah pendapat atau pandangan (views) yang sifatnya subjektif mengenai suatu masalah atau peristiwa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
- Jenis-jenis naskah opini antara lain artikel opini (article), kolom (column), tinjauan (essay), tajukrencana (editorial atau opini redaksi), surat pembaca (letter to the editor), karikatur, dan pojok.
- Isi tulisan berupa pendapat pribadi penulis berdasarkan fakta ataupun ungkapan pemikiran semata.
- Struktur umum tulisan opini/artikel: judul (head), penulis (by line), pembuka tulisan (opening), pengait (bridge), isi tulisan (body), dan penutup (closing).
- Feature (karangan khas) adalah laporan jurnalistik bergaya sastra (gaya penulisan karya fiksi seperti cerpen) yang menuturkan peristiwa.
- Isinya penonjolan segi (angle) tertentu dalam sebuah peristiwa, biasanya unsur yang mengandung segi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi —keharuan, simpati, kegembiraan, atau bahkan amarah atau kejengkelan.
- Mengedepankan unsur hiburan ketimbang informasi.
- Biasanya menggunakan “kata berona” (colorful word) untuk menambah daya tulisan.
- Jenis-jenis feature antara lain feature berita (news feature), feature artikel (article feature), tips (how to do it feature), feature biografi, feature perjalanan atau petualangan (catatan perjalanan), dan sebagainya.
- Resensi secara bahasa artinya “pertimbangan atau perbincangan (tentang) sebuah buku” (WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984:821).
- Kamus Besar Bahasa Indonesia: pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku.
- Berisi penilaian tentang kelebihan atau kekurangan sebuah buku, menarik-tidaknya tema dan isi buku itu, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli.
- Selain resensi buku, ada pula resensi film dan resensi pementasan drama.
- Penulis resensi disebut resensator (peresensi). M.L. Stein (1993:80) menyebut penulis resensi sebagai pengkritik (kritikus). Pendapat mereka, kata Stein, adalah penting karena kadang-kadang mereka dapat menilai apakah sebuah buku akan mencapai keberhasilan atau sebaliknya.
- Struktur tulisan: (1) Pendahuluan –berisi informasi objektif atau identitas buku, meliputi judul, penulis, penerbit dan tahun terbitnya, jumlah halaman, dan –bila perlu– harga. (2) Isi –ulasan tentang tema atau judul buku, paparan singkat isi buku (mengacu kepada daftar isi) atau gambaran tentang keseluruhan isi buku, dan informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku tersebut. Diulas pula tentang gaya penulisan, perbandingan buku itu dengan buku bertema sama karangan penulis lain atau buku karangan penulis yang sama dengan tema lain. (3) Penutup –peresensi menilai bobot (kualitas) isi buku tersebut secara keseluruhan, menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut, memberi kritik atau saran kepada penulis dan penerbitnya (misalnya menyangkut cover, judul, editing), serta memberi pertimbangan kepada pembaca tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki/dibeli.
- Kolom (column) adalah sebuah rubrik khusus para pakar yang berisikan karangan atau tulisan pendek, yang berisikan pendapat subjektif penulisnya tentang suatu masalah.
- Rubrik khusus ini umumnya bernama asli (“Kolom”), namun ada pula media massa yang menggunakan nama lain seperti “Resonansi” (Republika), “Asal Usul” (Kompas), dan sebagainya.
- Penulisnya disebut kolomnis (columnist). Dalam kamus bahasa, kolomnis diartikan sebagai seorang penulis yang menyumbangkan karangan (artikel) pada suatu media massa secara tetap.
- Isinya hanya pendapat, berbeda dengan tulisan artikel yang berisi pendapat namun disertai tuturan data, fakta, berita, atau argumentasi berdasarkan teori keilmuan yang mendukung pendapatnya tentang suatu masalah.
- Nasksh kolom tidak mempunyai struktur tertentu, tapi langsung berisi tubuh tulisan, yakni berupa pengungkapan pokok bahasan dan pendapat penulisnya tentang masalah tersebut. Judulnya pun biasanya singkat saja. Bahkan, dapat hanya satu kata.
- Tajukrencana (biasa disingkat “tajuk” saja) dikenal sebagai “induk karangan” sebuah media massa.
- Disebut juga “Opini Redaksi”, yakni penilaian redaksi sebuah media tentang suatu peristiwa atau masalah.
- Merupakan “jatidiri” atau identitas sebuah media massa. Melalui tajuklah redaksi media tersebut menunjukkan sikap atau visinya tentang sebuah masalah aktual yang terjadi di masyarakat.
- Tajukrencana yang berupa artikel pendek dan mirip dengan tulisan kolom ini, biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau redaktur senior yang mampu menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.
- Sikap, opini, atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah visi dan penilaian orang, kelompok, atau organisasi yang mengelola atau berada di belakang media tersebut.
- Esai (essay) artinya (1) karangan, esei (sastra) dan (2) skripsi.
- KBBI mendefinisikan esai sebagai “karangan prosa (karangan bebas) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”.
- Esai dikenal di tiga dunia: jurnalistik, akademis, dan sastra/seni.
- Dalam konteks jurnalistik, esai adalah tulisan pendek yang biasanya berisi pandangan penulis tentang subjek tertentu.
- Dalam konteks akademis, esai diartikan sebagai “komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu”.
- Struktur tulisan esai akademis atau sistematika penulisannya dibagi menjadi tiga bagian: (1) Pendahuluan (berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi), (2) Subjek bahasan dan pengantar tentang subjek), (3) Tubuh atau isi/pembahasan (menyajikan seluruh informasi tentang subjek), dan (4) Penutup berupa kesimpulan (konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek).
- Bentuk esai dalam konteks akademis dikenal sebagai “esai formal” yang sering dipergunakan para pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
- Di dunia sastra atau seni, esai adalah karya sastra berupa tulisan pendek berisi tinjauan subjektif penulisnya atas suatu masalah di bidang kesusastraan dan kesenian. Esai adalah tulisan berisi ulasan tentang sebuah karya sastra dan seni.
- Sedikitnya ada tiga jenis esai: narastif, deskriptif, dan persuasif.
- Tulisan ilmiah dikenal sebagai “tulisan akademis” (academic writing).
- Memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis, diikuti “kerangka berpikir” untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam.
- Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas.
- Jenis tulisan ilmiah: disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.
- Ilmiah populer yaitu tulisan ilmiah yang ditulis dengan gaya penyajian artikel populer atau gaya jurnalistik yang mengedepankan unsur informasi, keumuman, dan mudah dimengerti.
- Tulisan ilmiah populer bisa juga diartikan sebagai tulisan ilmiah yang disusun dengan menggunakan bahasa jurnalistik (language of mass communication).
- Prinsipnya, menulis artikel ilmiah populer sama dengan menulis artikel populer biasa –proses kerja intelektual yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique), latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan… kesabaran.
- Seperti halnya semua tulisan, artikel ilmiah populer juga menjadikan komunikasi sebagai tujuan utama.
- Perbedaan utama artikel biasa dengan artikel ilmiah populer utamanya dalam hal dukungan fakta dan teori. Dalam artikel biasa, penulis tidak dituntut menyertakan fakta atau teori sebagai pendukung argumentasi atau opininya.
- Karakter utama artikel ilmiah populer adalah opini subjektif penulis disertai fakta-data (biasanya hasil riset) dan teori pendukung tentang suatu masalah atau peristiwa.
- Cara dan struktur penulisan sama dengan penulisan artikel opini. Wasalam.
Sekilas Sejarah Jurnalisme
Posted by Blog Warga on
Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati
Posted by Blog Warga on
Prinsip Dasar Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)
Posted by Blog Warga on Selasa, 04 November 2014
Banyak juga mediamainstream yang memberikan ruang bagi jurnalisme warga, seperti Republika Online.
Beberapa hari lalu ada seorang jurnalis warga –mengaku sebagai “praktisi CJ” (Citizen Journalism)– kirim email ke saya. Ia bertanya, apakah CJ juga harus mengikuti kaidah penulisan berita, seperti 5W+1H? Saya jawab, ya, agar berita yang ditulis lengkap. Formula 5W+1H menjadi semacam rumus baku dalam penulisan berita.
Selain itu, ada sejumlah prinsip dasar jurnalisme warga yang harus diperhatikan. Seperti dikutip Bighow Guide dalam “Citizen Journalism Basics“, salah satu tokoh terkemuka pendukung CJ, Dan Gillmor dan JD Lasica mengemukakan lima prinsip dasar jurnalisme warga (five basic principles of Citizen Journalism):
Accuracy. Akurasi, ketepatan.
Thoroughness. Kecermatan, ketelitian.
Transparency. Transparansi, keterbukaan dalam peliputan berita.
Fairness. Kejujuran
Independence. Independensi, tidak berpihak dan tidak terikat oleh kelompok mana pun.
ISTILAH LAIN CJ
Ada 9 alternatif nama untuk Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) sebagaimana dikemukakan Mark Glaser di Mediashift:
Grassroots journalism. Jurnalisme Akar Rumput
Networked journalism. Jurnalisme Berjejaring.
Open source journalism. Jurnalisme Sumber Terbuka.
Citizen media. Media Warga.
Participatory journalism. Jurnalisme Partisipasi.
Hyperlocal journalism. Jurnalisme Sangat Lokal.
Bottom-up journalism. Jurnalisme Bawah-ke-Atas.
Stand-alone journalism. Jurnalisme Mandiri.
Distributed journalism. Jurnalisme Terdistribusi.
Ah, bahasa Inggris saya kurang bagus. Benarkah terjemahanya demikian? Silakan cari terjemahan yang lebih pasa dan enak. [romeltea.com]
Jurnalis Media Online Harus Serbabisa
Posted by Blog Warga on
Serbabisa merupakan salah satu prinsip jurnalistik online yang terangkum dalam BASIC (Brevity, Adaptability, Scannable, Interactivity, Community) sebagaimana dikemukakan Paul Bradshaw (Senior Lecturer, Online Journalism, Magazines and New Media, School of Media, Birmingham City University, UK (mediacourses.com), Blogger) seperti dipublikasikan Online Journalism Blog.
Ketika membahas prinsip “adaptability”, Bradshaw mengemukakan, adaptability (penyesuaian) adalah keterampilan kunci (key skills) wartawan di era new media. Era jurnalis hanya menulis naskah (teks) atau hanya merekam video dan audio, telah berlalu.
Saat ini, suratkabar, majalah, TV, dan radio punua versi online (website). Karenanya, kontennya pun disesuaikan dengan karakter konten media online, yakni:
(Hyper)Text
Audio
Video
Still images
Audio slideshows
Animation
Flash interactivity
Database-driven elements
Blogs (dalam hal ini: daftar artikel/berita/informasi tekstual).
Microblogging/Text/email alerts (Twitter)
Community elements – forums, wikis, social networking, polls, surveys
Live chats
Mapping
Mashups (aplikasi web).
“Jurnalis online mesti cerdas memilih format yang paling pas untuk melaporkan berita: teks, video, audio, map, atau gabungan,” kata Bradshaw.
Wartawan Media Online: All Journalist
Dikemukakan pula, jurnalis online dituntut mampu menjadi “All Journalist” (wartawan segala jenis media):
Menulis dengan baik, ringkas, dan cepat untuk lebih dari satu jenis media.
Menemukan informasi akurat dan sumber online dan offline terpercaya, secara cepat, dan harus memiliki koleksi RSS Feeds (juga Google Alert, pen.) agar “keeping them in touch with their area”.
Memahami beberapa prinsip dasar video, audio, dan foto/gambar. Soal gambar, misalnya, selain prinsip jurnalistik foto, juga soal ukuran (size) yang tidak menggangu loading website.
Menguasai “editing software” –photo, video, and audio software.
Memahami komunitas online seperti Facebook, Flickr, Youtube –lebih baik lagi “should already be a productive member of one”.
Dengan demikian, wartawan media online harus serbabisa, yakni menguasai teknologi informasi dan komunikasi terkini, terutama terkait dengan internet (online). [sumber: romeltea.com]
Lima Kaidah Menulis di Media Online
Posted by Blog Warga on
Penulisan Online (Online Writing) memiliki kaidah tersendiri yang berbeda dengan gaya penulisan di media cetak atau elektronik (radio/TV).
Setidaknya ada 5 kaidah menulis di media online (online writing) yang wajib kita perhatikan dan amalkan.
Anda boleh mengabaikan kelima kaidah penulisan online yang penting ini. Risikonya, tulisan Anda tidak efektif. Anda gagal berkomunikasi via media online karena tulisan sulit dibaca atau menyusahkan mata user.
5 Kaidah Menulis di Media Online (Online Writing Style)
1. Alinea Pendek
Tulisan online, termasuk di blog, hendaknya menggunakan alinea (paragraf) pendek. Idealnya, satu alinea maksimal lima baris (five lines per paragraph). Contoh terbaik bisa disimak situs BBC Indonesia.
2. Jarak Antar-Alinea
Harus ada jarang antar-alinea, menyisakan “ruang kosong” atau “ruang putih” (white space) antar-alinea. Ini membuat naskah online mudah dipindai dan enak dibaca.
3. Tidak Ada Indent
Tulisan online tidak mengenal indent, tekuk/lekuk ke dalam di awal alinea, seperti gaya naskah koran atau majalah. Ide penulisan online nomor 3 ini boleh diabaikan, tapi jadinya “tidak lazim”. Coba simak situs-situs terkemuka, adakah indent?
4. Rata Kiri (Align Left)
Ini optional. Tapi jika menggunakan “align justify”, maka tulisan Anda akan terkesan formal, serius, dan kaku. Jarang sekali ada situs yang menggunakan “justify”, misalnya situs instansi pemerintah yang “terbawa suasana formal-birokratis”.
Rata kiri akan membuat naskah menjadi nyaman dibaca, scannable, dan banyak menyisakan “ruang istirahat mata”.
5. Highlight
Akan lebih scannable dan enak dibaca jika tulisan online diberi tanda-tanda khusus pada bagian khusus, seperti ditebalkan (bold), dimiringkan (italic), diberi warna (color), atau di-block qoute. Ini akan menjadikan naskah online Anda “eye catching” –menarik perhatian mata user.
Sebagian kaidah penulisan online di atas dibuat berdasarkan hasil riset pembaca online, disesuaikan dengann karakteristik media online, sebagaimana bisa disimak di NN Group.
Masih banyak kaidah penulisan online, seperti hyperlink, penentuan jenis huruf, mengelola gambar (image), dan bullet/numbering. Mungkin akan dibahas di posting lain. Kalau tidak sabar, Googling aja… dengan kata kunci “online writing tips”.
Sumber: romelteamedia
Solusi Pendidikan di Aceh Kurikulum Islam Terpadu
Posted by Blog Warga on Jumat, 26 September 2014
Kenapa Minum Soda Diet Justru Bisa Bikin Gemuk?
Posted by Blog Warga on Kamis, 11 September 2014
Minum Yogurt Bisa Jauhkan Anak-anak Dari Batuk & Pilek
Posted by Blog Warga on
Pakar Pendidikan dari 16 Negara Berkumpul di Aceh
Posted by Blog Warga on
![]() |
| Rektor UIN Ar Raniry Prof. Farid Wajdi Ibrahim |
Benarkah Jurnalistik Online: Jurnalistik Masa Depan?
Posted by Blog Warga on Selasa, 09 September 2014
![]() |
| romeltea.com |
KIPPAS Gelar Lomba Tulis Artikel dan News Feature
Posted by Blog Warga on Selasa, 02 September 2014
![]() |
| ilustrasi |
PPID Kota Banda Aceh Lounching Aplikasi Online
Posted by Blog Warga on Senin, 01 September 2014
Masyarakat Penentu Kualitas Pendidikan
Posted by Blog Warga on Sabtu, 23 Agustus 2014
PENDIDIKAN adalah permasalah terpenting bagi semua orang. Dengan pendidikan yang tinggi maka pengetahuan orang juga akan bertambah. Melalui pendidikan, seseorang bisa memperoleh apa yang menjadi harapan dan cita-cita dalam hidupnya.
Pelayanan Kesehatan Puskesmas di Aceh Masih Menyedihkan
Posted by Blog Warga on Rabu, 20 Agustus 2014
Seorang staf lembaga lokal publik servis spesialis USAID, Neneng Indriyanti pada awak media mengatakan, bicara masalah pelayanan kesehatan di Aceh, semua akan tertuju pada Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang merupakan rumah sakit terbesar dan ternama di Aceh. Namun banyak orang luput untuk menyoroti bagaimana pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas di seluruh Aceh.


















